Artikel

Simulasi Kesiapsiagaan Bencana: Mengubah Pengetahuan Menjadi Kesiapan Nyata di Desa Bunton

Penulis : Maulana S.

Cilacap, 30 Juli 2026, Pengetahuan mengenai kebencanaan tidak akan cukup apabila tidak diikuti dengan kemampuan untuk bertindak. Dalam situasi darurat, masyarakat hanya memiliki waktu yang terbatas untuk mengambil keputusan, menyelamatkan diri, membantu anggota keluarga, dan melakukan evakuasi. Karena itu, kemampuan tersebut perlu dibangun melalui latihan yang dilakukan secara berulang dan mendekati kondisi nyata.

Prinsip tersebut menjadi dasar pelaksanaan Materi Simulasi Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Bencana dalam Program Pembentukan dan Peningkatan Kapasitas Perempuan Tangguh Bencana Desa Bunton Tahun 2026. Materi sekaligus simulasi dipandu oleh Edi Purwanto, S.Sos., M.M., Kepala UPT BPBD Kroya Kabupaten Cilacap. Sesi ini menjadi tahap penting karena seluruh pengetahuan yang telah diperoleh peserta pada materi sebelumnya diterapkan secara langsung melalui latihan penyelamatan, komunikasi, koordinasi, pertolongan korban, dan evakuasi.

Dari Teori Menuju Tindakan Simulasi dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan praktik, tetapi sebagai proses membangun refleks kesiapsiagaan. Ketika bencana sesungguhnya terjadi, masyarakat tidak memiliki banyak waktu untuk membaca panduan atau menentukan tindakan dari awal. Respons harus muncul berdasarkan pengetahuan dan latihan yang telah dilakukan sebelumnya.

Desa Bunton sendiri merupakan wilayah pesisir yang memiliki ancaman gempa bumi dan tsunami. Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk memahami jalur evakuasi, titik kumpul, sistem peringatan dini, serta prosedur penyelamatan mandiri. Dalam konteks kedaruratan, masyarakat diarahkan untuk tidak hanya mengandalkan bantuan petugas, tetapi mampu menjadi penyelamat pertama bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungan sekitarnya.

Perempuan sebagai Penggerak Kesiapsiagaan Keluarga Dalam simulasi tersebut, perempuan mendapatkan perhatian khusus karena memiliki posisi strategis dalam membangun kesiapsiagaan di tingkat keluarga. Perempuan bukan hanya berperan sebagai ibu dan pengelola rumah tangga, tetapi juga sebagai pendidik utama bagi anak-anak serta penghubung informasi di lingkungan sosial.

Melalui Kelompok Srikandi Tangguh, pengetahuan mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, tas siaga, dan tindakan penyelamatan dapat disebarluaskan melalui berbagai ruang sosial seperti PKK, Posyandu, Dasa Wisma, pengajian, maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya. Dengan demikian, kesiapsiagaan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi budaya bersama di tingkat keluarga dan lingkungan.

Mengenali Jalur Evakuasi Sebelum Bencana Terjadi Salah satu bagian penting dalam simulasi adalah pengenalan lokasi evakuasi. Peserta diperkenalkan kembali dengan Tempat Evakuasi Sementara (TES), yaitu Balai Desa Bunton, Masjid Besar Al-Hikmah Adipala, dan SMP Negeri 1 Adipala. Sementara itu, Tempat Evakuasi Akhir (TEA) diarahkan menuju UPTD Puskesmas Maos sebagai lokasi yang lebih aman apabila terjadi tsunami.

Peserta juga ditekankan untuk tidak hanya mengandalkan rambu evakuasi. Jalur harus dihafalkan sehingga tetap dapat digunakan apabila terjadi kondisi gelap, rambu rusak, atau situasi lain yang menyebabkan petunjuk visual tidak dapat digunakan.

Skenario Gempa Bumi Berpotensi Tsunami Untuk membuat latihan lebih realistis, simulasi menggunakan skenario gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami. Dalam skenario latihan, pada 30 Juli 2026 pukul 14.00 WIB terjadi gempa berkekuatan 7,5 SR dengan kedalaman 10 km di barat daya Cilacap.

Skenario tersebut kemudian dikembangkan dengan kondisi adanya beberapa korban: satu peserta mengalami cedera kaki akibat terjatuh ketika melakukan evakuasi, satu orang tidak mampu berjalan sehingga membutuhkan bantuan, satu orang tertimpa lemari, dan satu orang mengalami pingsan akibat terbentur kursi. Skenario ini membuat peserta tidak hanya berlatih berlari menuju tempat aman, tetapi juga menghadapi persoalan nyata yang mungkin muncul selama proses evakuasi.

Drop, Cover, and Hold On: Respons Pertama Saat Gempa Ketika gempa terjadi, peserta dilatih untuk tidak langsung berlari tanpa memperhatikan keselamatan. Respons pertama adalah menerapkan prinsip Drop, Cover, and Hold On—merunduk, melindungi kepala, dan berlindung di bawah meja atau struktur bangunan yang kokoh.

Setelah guncangan berhenti, peserta diarahkan untuk keluar dari bangunan secara tertib, mematikan aliran listrik dan kompor apabila memungkinkan, kemudian menuju titik kumpul melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan.

Latihan ini juga menekankan pentingnya kesiapan keluarga sebelum bencana, termasuk mengetahui lokasi kunci rumah, menyimpan tas siaga bencana di tempat yang mudah dijangkau, menyepakati titik kumpul keluarga, dan memahami jalur evakuasi.

Tidak Menunggu, Tetapi Bergerak Dalam kondisi gempa yang berpotensi tsunami, waktu merupakan faktor yang sangat menentukan. Karena itu, peserta diingatkan untuk tidak bergantung sepenuhnya pada sirene, telepon seluler, maupun media sosial.

Salah satu pesan penting dalam latihan adalah perlunya evakuasi mandiri ketika masyarakat merasakan gempa yang kuat dan berlangsung lama. Sistem komunikasi formal dapat mengalami gangguan, sehingga masyarakat perlu memiliki alternatif komunikasi yang sederhana dan dapat diandalkan.

Dalam konteks tersebut, kentongan kembali diperkenalkan sebagai salah satu alat komunikasi darurat yang murah, mudah digunakan, dan dapat tetap berfungsi ketika listrik maupun jaringan telekomunikasi terganggu.

Dari Pendataan hingga Penyelamatan Korban Simulasi tidak berhenti pada proses evakuasi. Setelah berada di titik kumpul, peserta dilatih melakukan pendataan warga dan korban. Setiap kepala keluarga memastikan seluruh anggota keluarganya telah berkumpul, kemudian informasi disampaikan secara berjenjang kepada Ketua RT dan Posko Komando.

Pada saat yang sama, dilakukan koordinasi dengan BPBD dan BMKG untuk memperoleh informasi mengenai kondisi gempa dan potensi tsunami. Jika ancaman terkonfirmasi, masyarakat kemudian diarahkan melanjutkan evakuasi menuju TES atau TEA sesuai kondisi dan instruksi penanganan darurat.

Peserta juga mempraktikkan pencarian dan penyelamatan korban. Korban yang tidak mampu berjalan dibantu menggunakan tandu, sementara korban yang membutuhkan penanganan lebih lanjut diarahkan untuk mendapatkan pertolongan medis dan dirujuk ke fasilitas kesehatan.

Sistem Satu Komando dan Kolaborasi Hal penting lainnya yang dipraktikkan adalah koordinasi lintas unsur. Dalam kondisi bencana, banyak pihak akan terlibat sekaligus—pemerintah desa, BPBD, FPRB, relawan, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Tanpa koordinasi yang jelas, banyaknya pihak yang terlibat justru dapat menimbulkan kebingungan. Karena itu, latihan memperkenalkan pola kerja dengan sistem komando dan pembagian tugas yang jelas sehingga proses komunikasi, pencarian korban, pertolongan pertama, dan evakuasi dapat berlangsung lebih efektif.

Sembilan Tahapan dalam Simulasi Secara keseluruhan, latihan yang dilakukan peserta mengikuti alur tanggap darurat yang sistematis:

1. Terjadi gempa bumi dan peserta melakukan perlindungan diri.

2. Aktivasi peringatan dini melalui sirene dan kentongan.

3. Evakuasi mandiri menuju titik kumpul.

4. Pendataan warga dan korban.

5. Koordinasi dengan BMKG dan BPBD.

6. Evakuasi menuju TES/TEA.

7. Pencarian dan penyelamatan korban.

8. Rujukan medis bagi korban yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

9. Evaluasi dan pelaporan setelah keadaan dinyatakan aman.

Rangkaian tersebut memberikan gambaran utuh bahwa tanggap darurat merupakan sebuah proses yang saling terhubung. Kesalahan pada satu tahapan dapat memengaruhi tahapan berikutnya. Karena itu, latihan diperlukan agar setiap individu memahami posisi dan perannya masing-masing.

Membangun Desa yang Mampu Menyelamatkan Diri Simulasi kesiapsiagaan dan tanggap darurat di Desa Bunton pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang berlari ketika sirene berbunyi. Lebih jauh, kegiatan ini merupakan upaya membangun budaya kesiapsiagaan yang dimulai dari keluarga, diperkuat oleh kelompok masyarakat, dan terhubung dengan sistem penanggulangan bencana pemerintah.

Melalui latihan tersebut, para peserta Srikandi Tangguh mendapatkan pengalaman langsung dalam melakukan perlindungan diri, evakuasi, pendataan, komunikasi, pencarian korban, pertolongan, hingga koordinasi dengan berbagai pihak. Pengalaman praktis tersebut diharapkan menjadi modal penting bagi kelompok untuk menjalankan perannya sebagai agen perubahan dan penggerak kesiapsiagaan bencana di Desa Bunton.

Pada akhirnya, desa yang tangguh bukanlah desa yang tidak pernah mengalami bencana. Desa yang tangguh adalah desa yang mengenali risikonya, mengetahui apa yang harus dilakukan, mampu bergerak bersama, dan tidak menunggu untuk diselamatkan ketika bencana datang.

...