Artikel

Perempuan sebagai Penggerak Ketangguhan Bencana: Belajar dari Desa Bunton

Penulis : Maulana S.

Cilacap, 30 Juli 2026, Ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh keberadaan infrastruktur dan sistem peringatan dini, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dalam memahami risiko dan mengambil tindakan secara tepat. Dalam konteks tersebut, perempuan memiliki posisi yang sangat strategis karena berada dekat dengan keluarga, komunitas, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus. Pesan inilah yang mengemuka dalam Materi Peran Perempuan dalam Kebencanaan yang disampaikan oleh Dr. Dyah Susanti, S.P., M.P., Ketua Tim Kesiagaan Bencana Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), dalam rangkaian Program Pembentukan dan Peningkatan Kapasitas Perempuan Tangguh Bencana Desa Bunton Tahun 2026..

Mengenali Risiko dari Lingkungan Sendiri Sesi pembelajaran diawali dengan pemahaman mengenai konsep dasar kebencanaan serta pentingnya mengenali risiko yang berada di sekitar masyarakat. Desa Bunton sebagai wilayah pesisir menghadapi sejumlah ancaman, antara lain banjir rob, gempa bumi, tsunami, angin kencang atau puting beliung, kebakaran lahan, kekeringan, dan cuaca ekstrem.

Menurut narasumber, pengenalan terhadap risiko lokal merupakan langkah pertama untuk membangun budaya sadar bencana. Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui bahwa bencana dapat terjadi, tetapi perlu memahami jenis ancaman, kelompok yang paling rentan, jalur penyelamatan, serta kapasitas yang tersedia di lingkungan masing-masing.

Pembahasan menjadi semakin relevan ketika peserta diajak mengingat kembali pengalaman tsunami yang pernah terjadi pada tahun 2006. Sejumlah peserta menceritakan bagaimana mereka harus mengambil keputusan secara mandiri dalam situasi penuh kepanikan. Sebagian ibu berada dalam kondisi hamil, anak-anak sedang berada di sekolah atau mengaji, sementara sebagian suami sedang melaut. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kesiapan keluarga sangat menentukan ketika komunikasi dan bantuan dari luar belum dapat segera diperoleh.

Resiliensi Komunitas Dibangun Bersama Dr. Dyah kemudian memperkenalkan konsep resiliensi komunitas, yaitu kemampuan masyarakat untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih setelah mengalami bencana.

Ketangguhan masyarakat tersebut dibangun melalui empat pilar utama, yaitu ketahanan sosial, ekonomi, fisik, dan pengetahuan.

Ketahanan sosial tumbuh melalui gotong royong, rasa saling percaya, dan jejaring masyarakat seperti PKK, Dasa Wisma, Posyandu, serta kelompok relawan. Ketahanan ekonomi dibangun melalui diversifikasi mata pencaharian, tabungan darurat, dan perlindungan sosial. Sementara itu, ketahanan fisik berkaitan dengan rumah yang lebih aman, jalur evakuasi, dan infrastruktur pendukung kebencanaan. Pilar terakhir adalah ketahanan pengetahuan yang diperkuat melalui edukasi, latihan, simulasi, dan penyusunan rencana tanggap darurat keluarga.

Keempat pilar tersebut menunjukkan bahwa ketangguhan bencana bukan hanya persoalan kemampuan menyelamatkan diri saat bencana terjadi. Ketangguhan merupakan kemampuan kolektif yang dibangun sebelum, saat, dan setelah bencana.

Perempuan Bukan Sekadar Kelompok Rentan Salah satu pesan terpenting dalam materi tersebut adalah perubahan cara pandang terhadap perempuan dalam kebencanaan. Perempuan tidak semata-mata diposisikan sebagai kelompok rentan yang harus dilindungi, tetapi sebagai agen perubahan yang memiliki kapasitas untuk membangun ketangguhan keluarga dan masyarakat.

Pada tahap pra-bencana, perempuan dapat menjadi pendidik pertama bagi keluarga. Mereka dapat mengajarkan langkah penyelamatan kepada anak dan anggota keluarga, mengenalkan jalur evakuasi, menyiapkan Tas Siaga Bencana, serta menyebarluaskan informasi melalui PKK, Dasa Wisma, Posyandu, dan kelompok Srikandi Tangguh. Perempuan juga perlu dilibatkan dalam penyusunan rencana kontinjensi desa agar kebutuhan anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas dapat diperhitungkan sejak awal.

Ketika bencana terjadi, perempuan memiliki peran penting dalam pengelolaan logistik keluarga dan pengungsian. Mereka dapat membantu memastikan distribusi makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya berjalan secara adil.

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan perempuan mengenali kebutuhan spesifik kelompok rentan. Kebutuhan ibu menyusui, ibu hamil, perempuan yang membutuhkan pembalut dan pakaian dalam, anak-anak, lansia, maupun penyandang disabilitas perlu menjadi bagian dari sistem pelayanan di lokasi pengungsian.

Perempuan dan Pemulihan Pascabencana Peran perempuan tidak berhenti setelah kondisi darurat berakhir. Pada tahap pascabencana, perempuan menjadi salah satu penggerak utama pemulihan keluarga dan komunitas.

Perempuan dapat terlibat dalam kegiatan trauma healing bagi anak-anak, menjaga kesehatan keluarga, membangun kembali semangat masyarakat, serta menghidupkan kembali aktivitas ekonomi keluarga yang sempat terhenti akibat bencana.

Dalam situasi pengungsian, perempuan juga dapat berperan dalam menjaga keamanan dan mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender maupun bentuk kerentanan sosial lainnya. Dengan demikian, pemulihan tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan kembali rumah dan fasilitas fisik, tetapi juga sebagai proses mengembalikan kondisi sosial, psikologis, dan ekonomi masyarakat.

Tas Siaga dan SOP Kesiapsiagaan Keluarga Untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan praktis, peserta diperkenalkan pada SOP Kesiapsiagaan Keluarga.

Setiap keluarga dianjurkan mengenali potensi bahaya di sekitar rumah, menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul, menyimpan nomor kontak darurat, serta menyiapkan Tas Siaga Bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, air minum minimal untuk tiga hari, makanan tahan lama, senter, peluit, uang tunai, dan kebutuhan darurat lainnya.

Ketika bencana terjadi, keluarga harus segera melakukan evakuasi menuju lokasi aman, mematikan aliran listrik dan gas sebelum meninggalkan rumah, membawa tas siaga, serta mengikuti arahan petugas. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak kembali ke rumah sebelum dinyatakan aman.

Pesan ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dimulai dari rumah. Sebuah keluarga yang telah memiliki rencana evakuasi dan perlengkapan darurat akan lebih siap menghadapi kondisi ketika bantuan belum dapat segera datang.

Posyandu sebagai Simpul Ketangguhan Desa Hal menarik lainnya dalam materi adalah penguatan peran Posyandu dalam penanggulangan bencana.

Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak, tetapi dapat dikembangkan sebagai pusat data kelompok rentan, penyedia obat-obatan darurat, pusat distribusi logistik kesehatan, tempat pemantauan gizi pengungsi, serta media penyebaran informasi peringatan dini.

Dengan jaringan kader yang menjangkau masyarakat hingga tingkat RT dan RW, Posyandu memiliki modal sosial yang kuat untuk mendukung sistem kesiapsiagaan desa. Peran kader yang mayoritas merupakan perempuan juga menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun jejaring masyarakat yang tangguh.

Dari Pengetahuan Menjadi Aksi Materi kemudian diarahkan pada penyusunan aksi nyata yang dapat dilakukan setelah pelatihan. Peserta didorong untuk menyiapkan Tas Siaga Bencana di setiap rumah, menghafal jalur evakuasi dan titik kumpul, membentuk relawan perempuan melalui Srikandi Tangguh Bencana, melakukan pendataan kelompok rentan, memasang rambu evakuasi, serta mengikuti simulasi secara berkala.

Koordinasi dengan Pemerintah Desa Bunton dan BPBD Kabupaten Cilacap juga menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa inisiatif masyarakat dapat terintegrasi dengan sistem penanggulangan bencana yang lebih luas. Narasumber turut memperkenalkan sistem peringatan dini berbasis komunitas melalui tingkatan Siaga 1, Siaga 2, dan Siaga 3, sehingga masyarakat dapat memahami tindakan yang harus dilakukan sesuai tingkat ancaman.

Mengukur Perubahan Pemahaman Peserta Pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta mengikuti pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pemahaman mengenai resiliensi komunitas, risiko bencana, isi Tas Siaga Bencana, peran Posyandu, serta prosedur keselamatan.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta, yang terlihat dari semakin banyaknya peserta yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar pada post-test. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran memberikan tambahan pengetahuan yang relevan bagi peserta dalam memahami kebencanaan dan peran perempuan dalam membangun kesiapsiagaan keluarga maupun masyarakat.

Srikandi Tangguh: Perempuan sebagai Penggerak Ketahanan Desa Penyampaian materi Dr. Dyah berlangsung secara interaktif melalui diskusi, berbagi pengalaman, dan penyusunan rencana aksi. Pendekatan tersebut membuat materi kebencanaan tidak berhenti sebagai teori, tetapi dikaitkan langsung dengan kondisi dan pengalaman masyarakat Desa Bunton.

Dari sesi tersebut muncul satu pemahaman penting: perempuan bukan sekadar pihak yang terdampak ketika bencana terjadi, tetapi merupakan salah satu penggerak utama resiliensi keluarga dan komunitas.

Melalui Program Pembentukan dan Peningkatan Kapasitas Perempuan Tangguh Bencana Desa Bunton, perempuan didorong memiliki pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan, dan kesiapsiagaan untuk mengambil peran dalam seluruh siklus kebencanaan. Harapannya, Srikandi Tangguh Desa Bunton dapat menjadi kekuatan masyarakat yang mampu mengedukasi keluarga, menggerakkan lingkungan, mendampingi kelompok rentan, serta membangun budaya kesiapsiagaan secara berkelanjutan.

...