Artikel
Srikandi Tangguh Desa Bunton: Membangun Kesadaran dan Kesiapsiagaan Menghadapi Risiko Bencana
Penulis : Maulana S.
Cilacap, 29 Juli 2026, Kesiapsiagaan bencana tidak dapat dibangun secara instan. Ia membutuhkan pengetahuan, kesadaran, latihan, serta kemampuan masyarakat untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat ketika menghadapi situasi darurat. Pesan inilah yang menjadi salah satu pokok utama dalam Materi Identifikasi Kebencanaan, Mitigasi, Kesiapsiagaan Bencana dan Tanggap Darurat yang disampaikan oleh Bapak Kelik Gunantoro, S.Sos., M.Si., Analis Bencana Ahli Madya BPBD Kabupaten Cilacap, dalam rangkaian Program Pembentukan dan Peningkatan Kapasitas Perempuan Tangguh Bencana Desa Bunton Tahun 2026.
Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai kondisi kebencanaan di Kabupaten Cilacap sekaligus menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada berbagai jenis ancaman bencana, tetapi juga diajak memahami bahwa pengurangan risiko bencana harus dimulai jauh sebelum bencana terjadi melalui peningkatan kapasitas individu, keluarga, dan komunitas.
Dari Respons Bencana Menuju Pengurangan RisikoDalam paparannya, Bapak Kelik menjelaskan bahwa paradigma penanggulangan bencana telah berkembang. Penanganan bencana tidak lagi semata-mata berfokus pada tindakan ketika bencana sudah terjadi, tetapi diarahkan pada pengurangan risiko bencana (Disaster Risk Reduction).
Pendekatan tersebut menempatkan tahap prabencana sebagai bagian yang sangat penting. Pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, pendidikan masyarakat, penyusunan rencana kontinjensi, serta peningkatan kapasitas menjadi investasi yang menentukan keselamatan masyarakat ketika bencana benar-benar terjadi.
Ketika bencana terjadi, masyarakat harus mampu bergerak pada tindakan penyelamatan dan evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan kelompok rentan, serta pengamanan sarana dan prasarana vital. Setelah keadaan darurat terlewati, proses dilanjutkan dengan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi agar masyarakat tidak hanya kembali pada kondisi sebelum bencana, tetapi juga memiliki kapasitas yang lebih baik dalam menghadapi risiko berikutnya.
Cilacap: Wilayah dengan Beragam Ancaman BencanaKabupaten Cilacap memiliki karakter geografis yang membuat masyarakatnya berhadapan dengan berbagai potensi ancaman. Kabupaten ini memiliki garis pantai sekitar 105 kilometer, dengan kawasan pesisir yang dihuni masyarakat pada 55 desa di 10 kecamatan yang memiliki potensi terdampak tsunami.
Selain ancaman tsunami, seluruh 24 kecamatan di Kabupaten Cilacap juga berada dalam wilayah rawan gempa bumi. Ancaman lainnya mencakup banjir, banjir rob, longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, kebakaran, hingga kegagalan teknologi.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan kebutuhan. Terlebih bagi Desa Bunton yang berada di kawasan pesisir dan memiliki kedekatan langsung dengan potensi ancaman tsunami.
Memahami Risiko: Hazard, Vulnerability, dan CapacitySalah satu konsep penting yang diperkenalkan dalam materi adalah hubungan antara bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity).
Bahaya merupakan ancaman yang dapat berasal dari faktor alam maupun aktivitas manusia. Namun, keberadaan bahaya tidak secara otomatis menghasilkan bencana. Risiko akan semakin besar ketika bahaya berinteraksi dengan kondisi masyarakat yang rentan dan memiliki kapasitas yang terbatas.
Karena itu, pengurangan risiko dapat dilakukan dengan tiga pendekatan utama: mengurangi tingkat bahaya, menurunkan kerentanan, dan meningkatkan kapasitas masyarakat.
Dalam konteks Desa Bunton, peningkatan kapasitas menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan secara langsung. Pelatihan, simulasi, edukasi keluarga, penyusunan jalur evakuasi, penentuan titik kumpul, serta pembentukan kelompok masyarakat merupakan bentuk nyata investasi kapasitas tersebut.
Perempuan: Garda Terdepan Keselamatan KeluargaBagian yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah pembahasan mengenai peran perempuan dalam penanggulangan bencana.
Pengalaman berbagai kejadian bencana di Indonesia menunjukkan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab besar ketika situasi darurat terjadi. Seorang ibu sering kali tidak hanya harus menyelamatkan dirinya, tetapi juga memastikan keselamatan anak-anak, anggota keluarga yang sakit, lansia, penyandang disabilitas, maupun anggota keluarga lainnya.
Peran tersebut bahkan berlanjut setelah fase penyelamatan. Perempuan dapat terlibat dalam pengelolaan dapur umum, distribusi kebutuhan keluarga, menjaga kesehatan anggota keluarga, hingga memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak dan anggota keluarga yang mengalami tekanan akibat bencana.
Di sisi lain, perempuan masih relatif jarang mendapatkan pelatihan kebencanaan secara khusus. Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan penting mengapa program Perempuan Tangguh Bencana di Desa Bunton perlu dikembangkan secara berkelanjutan.
Program ini tidak menempatkan perempuan hanya sebagai kelompok rentan yang harus dilindungi, tetapi sebagai aktor yang memiliki kapasitas untuk melindungi, mengedukasi, dan menggerakkan masyarakat.
Ketika Gempa Terjadi: Lindungi Diri Sebelum MenolongDalam pembahasan mengenai gempa bumi, Bapak Kelik mengingatkan bahwa banyak korban justru mengalami cedera akibat tertimpa bagian bangunan atau benda di dalam rumah.
Karena itu, ketika terjadi guncangan kuat dan kondisi tidak memungkinkan untuk langsung keluar, peserta diarahkan untuk menerapkan prinsip Drop, Cover, and Hold On. Masyarakat perlu merunduk, melindungi bagian kepala dan tubuh, berlindung di bawah meja atau benda kokoh, serta bertahan hingga guncangan berhenti.
Pesan tersebut menekankan bahwa keselamatan diri harus menjadi prioritas. Kepanikan justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika banyak orang berusaha keluar bangunan secara bersamaan.
Pemahaman tersebut kemudian diperkuat melalui contoh dan simulasi penyelamatan diri agar peserta tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga memiliki gambaran mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi gempa.
“Gede – Dawa – Ndang Minggat”Sebagai masyarakat pesisir, ancaman tsunami menjadi salah satu perhatian utama dalam pelatihan. Kabupaten Cilacap berada di kawasan Megathrust Selatan Jawa, sehingga masyarakat perlu memahami bahwa gempa kuat yang terjadi di wilayah tersebut harus direspons secara serius.
Salah satu pesan praktis yang diperkenalkan kepada peserta adalah prinsip “Gede – Dawa – Ndang Minggat”.
Gede, ketika gempa terasa sangat kuat. Dawa, ketika guncangan berlangsung lama. Ndang Minggat, segera melakukan evakuasi tanpa menunggu terlalu lama.
Prinsip tersebut dibuat sederhana agar mudah diingat masyarakat. Dalam kondisi darurat, kemampuan mengingat pesan keselamatan secara sederhana dapat menjadi sangat penting karena kepanikan dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan.
Peserta juga ditekankan agar tidak sepenuhnya bergantung pada telepon seluler maupun sirene. Dalam kondisi bencana, jaringan komunikasi dapat mengalami gangguan, sementara waktu yang tersedia untuk menyelamatkan diri dapat sangat terbatas.
Dari Masyarakat yang Ditolong Menjadi Masyarakat yang Mampu MenolongSalah satu pesan penting dari materi ini adalah perlunya perubahan paradigma masyarakat dalam menghadapi bencana. Masyarakat tidak seharusnya hanya menjadi pihak yang menunggu bantuan ketika bencana terjadi.
Sebaliknya, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menjadi penyelamat pertama bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan lingkungan sekitarnya.
Konsep tersebut menjadi dasar penting dalam Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat (PRBBM). Masyarakat perlu mengenali risiko di lingkungannya, memahami jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, memiliki perlengkapan kesiapsiagaan, membangun jejaring relawan, dan secara berkala mengikuti simulasi.
Dengan kapasitas tersebut, respons masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kedatangan bantuan dari luar. Masyarakat memiliki kemampuan awal untuk melakukan tindakan penyelamatan sambil menunggu dukungan dari BPBD, pemerintah, relawan, dan unsur terkait lainnya.
Pengalaman Tsunami 2006 Menjadi PembelajaranSesi diskusi berlangsung interaktif. Para peserta turut membagikan pengalaman dan ingatan mereka terhadap berbagai kejadian bencana yang pernah terjadi di Desa Bunton, termasuk pengalaman tsunami tahun 2006, banjir rob, serta angin kencang.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran karena memperlihatkan bahwa kebencanaan bukan sesuatu yang bersifat abstrak. Bagi masyarakat Desa Bunton, risiko bencana merupakan bagian dari pengalaman hidup yang perlu dipelajari dan diantisipasi.
Diskusi juga berkembang pada persoalan praktis, seperti bagaimana menyelamatkan anak-anak, bagaimana membantu anggota keluarga yang membutuhkan bantuan khusus, bagaimana menentukan jalur evakuasi, serta bagaimana membangun kelompok perempuan yang dapat bergerak ketika terjadi bencana.
Membangun Budaya Siaga dari KeluargaPada akhirnya, materi pertama ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga.
Pengetahuan yang diperoleh para peserta diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan. Para perempuan Desa Bunton didorong untuk menyampaikan kembali pengetahuan tersebut kepada suami, anak, tetangga, dan kelompok masyarakat lainnya.
Perempuan dapat menjadi penghubung antara informasi kebencanaan dengan praktik sehari-hari. Melalui Dasa Wisma, PKK, Posyandu, kegiatan sosial, maupun interaksi antarwarga, pesan-pesan mengenai keselamatan dapat terus disebarluaskan.
Dengan demikian, pembentukan Kelompok Tanggap Bencana “Srikandi Tangguh” Desa Bunton bukan hanya tentang membentuk sebuah organisasi, tetapi merupakan langkah awal membangun budaya kesiapsiagaan yang tumbuh dari masyarakat sendiri.
Melalui pengetahuan, latihan, kolaborasi, dan kepemimpinan perempuan, Desa Bunton diharapkan mampu bergerak dari masyarakat yang sekadar menunggu pertolongan menjadi masyarakat yang siap menolong.
Semangat tersebut menjadi fondasi penting bagi Srikandi Tangguh Desa Bunton untuk mewujudkan masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko, lebih sigap mengambil tindakan, dan lebih mampu melindungi keselamatan bersama.