Artikel

Srikandi PLN Group Dorong Perempuan Desa Bunton Jadi Garda Terdepan Kesiapsiagaan Bencana

Penulis : Maulana S.

Cilacap, 29 Juli 2026, Upaya membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan sistem peringatan dini, tetapi juga kesiapan manusia di tingkat keluarga dan komunitas. Menyadari pentingnya peran tersebut, Srikandi PLN Group yang terdiri atas PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PLN UP3 Cilacap, dan PLN Indonesia Power (PLN IP) UBP Adipala mendorong penguatan kapasitas perempuan Desa Bunton melalui kegiatan Pembentukan dan Peningkatan Kapasitas Perempuan Tangguh Bencana Desa Bunton Tahun 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, tersebut menjadi bagian dari Srikandi Movement, sebuah gerakan sosial Srikandi PLN yang mendorong pemberdayaan perempuan melalui peningkatan kapasitas, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan keterlibatan aktif dalam menjawab berbagai persoalan di masyarakat. Dalam konteks Desa Bunton, gerakan tersebut diwujudkan melalui penguatan kapasitas perempuan agar mampu mengambil peran dalam upaya mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.

Perempuan sebagai Kunci Ketangguhan KeluargaPada sesi pengantar, Srikandi PLN Group menekankan bahwa perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana. Perempuan merupakan bagian yang sangat dekat dengan keluarga dan memiliki peran penting dalam memastikan anggota keluarga memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.

Peran tersebut tidak berhenti pada lingkup rumah tangga. Perempuan juga memiliki jaringan sosial yang kuat melalui berbagai kelompok masyarakat seperti PKK, Posyandu, Dasa Wisma, kegiatan keagamaan, serta berbagai aktivitas sosial lainnya. Jaringan tersebut menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pengetahuan mengenai kebencanaan secara lebih luas.

Karena itu, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai kelompok yang perlu dilindungi ketika bencana terjadi, tetapi juga sebagai subjek sekaligus penggerak dalam pengurangan risiko bencana. Perempuan dapat menjadi edukator bagi keluarga, agen perubahan di lingkungan, pendamping kelompok rentan, sekaligus relawan yang membantu masyarakat pada saat keadaan darurat.

Bunton dan Tantangan Bencana di Wilayah PesisirPemilihan Desa Bunton sebagai lokasi program memiliki alasan yang kuat. Desa ini berada di wilayah pesisir selatan Jawa yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, sehingga masyarakat menghadapi berbagai potensi ancaman bencana.

Gelombang tinggi, cuaca ekstrem, banjir rob, abrasi, gempa bumi, hingga tsunami merupakan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak dapat hanya mengandalkan respons ketika bencana telah terjadi. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali risiko sejak dini serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Dalam konteks tersebut, pembentukan kelompok perempuan tangguh bencana menjadi langkah strategis. Kelompok ini diharapkan menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan masyarakat Desa Bunton yang mampu bergerak mulai dari tingkat keluarga hingga komunitas.

Belajar Mengambil Keputusan melalui Family Survival ChallengeSalah satu pendekatan menarik dalam sesi Srikandi Movement adalah pelaksanaan Family Survival Challenge. Melalui simulasi berbasis skenario, peserta diajak membayangkan kondisi darurat yang mungkin terjadi di lingkungan mereka dan kemudian mendiskusikan langkah penyelamatan yang harus dilakukan.

Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi diajak untuk berpikir, berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mengambil keputusan bersama. Pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual karena skenario yang dibahas dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam skenario tsunami, misalnya, peserta diarahkan untuk tidak menunggu terlalu lama ketika merasakan gempa kuat dan/atau berlangsung lama. Peserta diajak memahami pentingnya membawa tas siaga, memastikan anggota keluarga ikut melakukan evakuasi, serta segera bergerak menuju jalur atau lokasi evakuasi yang aman.

Pada skenario banjir, perhatian diberikan pada keselamatan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan anggota keluarga yang membutuhkan bantuan khusus. Peserta juga diingatkan mengenai pentingnya menghindari arus banjir serta memastikan sumber listrik diputus untuk mengurangi risiko kecelakaan listrik.

Sementara itu, dalam skenario gempa bumi, peserta diperkenalkan kembali pada prinsip Drop, Cover, and Hold On—merunduk, melindungi kepala dan tubuh, berlindung di bawah benda yang kokoh, serta bertahan hingga guncangan berhenti sebelum melakukan evakuasi secara tertib.

Pada skenario kebakaran rumah tangga, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya bertindak secara aman, termasuk mematikan sumber api dan regulator gas apabila memungkinkan serta segera meminta bantuan apabila api tidak dapat dikendalikan.

Tas Siaga dan Keselamatan KeluargaSalah satu pesan penting yang disampaikan Srikandi PLN Group adalah bahwa kesiapsiagaan harus dimulai dari rumah. Setiap keluarga perlu memiliki perlengkapan yang dapat langsung dibawa ketika harus melakukan evakuasi.

Tas Siaga Bencana atau emergency kit menjadi salah satu instrumen sederhana tetapi penting. Tas tersebut dapat berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, air minum, makanan ringan, pakaian seperlunya, serta kebutuhan dasar anggota keluarga.

Persiapan sederhana tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat yang membutuhkan evakuasi cepat. Dengan perlengkapan yang sudah disiapkan sebelumnya, keluarga tidak perlu menghabiskan waktu untuk mencari barang-barang penting ketika situasi sudah tidak memungkinkan.

Selain tas siaga, setiap keluarga juga perlu memiliki kesepakatan mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, kontak darurat, serta pembagian peran ketika terjadi bencana. Dengan demikian, proses evakuasi dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan mengurangi kepanikan.

Dari Peserta Menjadi Agen PerubahanLebih jauh, program ini diarahkan agar pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang pelatihan. Srikandi PLN Group mendorong peserta untuk membagikan kembali pengetahuan tersebut kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Pesan-pesan sederhana mengenai kesiapsiagaan dapat disampaikan melalui interaksi sosial sehari-hari. Edukasi kebencanaan dapat berlangsung ketika masyarakat berkumpul, mengikuti kegiatan PKK, Posyandu, pengajian, maupun aktivitas sosial lainnya. Dengan cara tersebut, budaya kesiapsiagaan dapat tumbuh secara alami dari masyarakat sendiri.

Semangat inilah yang menjadi dasar pembentukan Kelompok Tanggap Bencana “Srikandi Tangguh” Desa Bunton. Kelompok ini diharapkan mampu menjadi wadah perempuan untuk belajar, berkoordinasi, melakukan edukasi, dan berkontribusi dalam penanggulangan bencana berbasis masyarakat.

Kolaborasi untuk Desa yang Lebih TangguhPelaksanaan program menunjukkan bahwa membangun ketangguhan masyarakat membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. PLN Group tidak berdiri sendiri, tetapi hadir bersama Pemerintah Desa Bunton, BPBD Kabupaten Cilacap, PMI, unsur TNI dan Polri, akademisi, relawan kebencanaan, serta masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi penting karena kebencanaan merupakan persoalan lintas sektor. Pengetahuan masyarakat, dukungan pemerintah, sistem peringatan dini, kesiapan relawan, hingga ketersediaan sarana dan prasarana perlu berjalan secara terpadu.

Melalui Srikandi Movement, PLN Group berupaya menempatkan pemberdayaan perempuan sebagai bagian dari investasi sosial jangka panjang. Perempuan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan kebencanaan akan mampu memperkuat kesiapan keluarga, sementara keluarga yang siap akan memperkuat ketangguhan komunitas.

Pada akhirnya, program ini bukan sekadar pelatihan selama beberapa hari. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan langkah awal untuk membangun budaya kesiapsiagaan yang hidup di tengah masyarakat Desa Bunton.

Dengan semangat “Siap, Sigap, Selamat”, Srikandi Tangguh Desa Bunton diharapkan mampu menjadi penggerak yang menghubungkan pengetahuan dengan tindakan, keluarga dengan komunitas, serta kesiapsiagaan dengan ketangguhan.

"Karena ketika perempuan siap, keluarga lebih siap. Ketika keluarga siap, masyarakat menjadi lebih tangguh."

...