Siaran Pers

Siaran Pers: Srikandi PLN EPI Bersama Pemerintah dan Mitra Bentuk Kelompok Perempuan Tangguh Bencana untuk Perkuat Kesiapsiagaan Perempuan Menghadapi Bencana di Desa Bunton

Penulis : Maulana S.

Cilacap, 29 Juli 2026 – Sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi risiko bencana, PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) melalui Srikandi PLN EPI menyelenggarakan Program Pembentukan dan Peningkatan Kapasitas Perempuan Tangguh Bencana Desa Bunton Tahun 2026 . Program yang berlangsung selama tiga hari, mulai 29–31 Juli 2026, dilaksanakan di Balai Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, dengan melibatkan 20 orang peserta yang tergabung dalam Kelompok Tanggap Bencana "Srikandi Tangguh" Desa Bunton.

Program ini merupakan upaya kolaboratif Srikandi PLN EPI bersama Pemerintah Desa Bunton, BPBD Kabupaten Cilacap, PMI Kabupaten Cilacap, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Cilacap melalui TAGANA, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Koramil Adipala, Polsek Adipala, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam memperkuat peran perempuan sebagai garda terdepan keluarga dan komunitas dalam menghadapi ancaman bencana.

...
Foto: Peresmian Kelompok Perempuan Tangguh Bencana

Desa Bunton dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena merupakan wilayah pesisir selatan Kabupaten Cilacap yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai potensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir rob, abrasi pantai, angin kencang, hingga dampak perubahan iklim. Kondisi tersebut menuntut adanya peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya perempuan, agar mampu menjadi agen kesiapsiagaan di tingkat keluarga maupun lingkungan.

Pembukaan Dihadiri Berbagai Pemangku Kepentingan Kegiatan secara resmi dibuka pada Rabu, 29 Juli 2026, dengan dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah, perusahaan, akademisi, dan organisasi kemanusiaan. Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Perwakilan Srikandi PLN Energi Primer Indonesia, Camat Adipala, BPBD Kabupaten Cilacap, PMI Kabupaten Cilacap, Pemerintah Desa Bunton, Koramil Adipala, Polsek Adipala, Srikandi PLN UP3 Cilacap, Srikandi PLN IP UBP Adipala , serta tokoh masyarakat dan organisasi lokal.

Dalam sambutannya, Dita Artsana selaku perwakilan Srikandi PLN EPI menyampaikan bahwa pembentukan kelompok perempuan tangguh merupakan bagian dari gerakan pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Menurutnya, pengalaman berbagai bencana di Indonesia menunjukkan bahwa perempuan memegang peranan penting dalam melindungi keluarga, mengelola kebutuhan dasar, serta mendukung proses pemulihan pascabencana. Oleh karena itu, perempuan perlu dibekali pengetahuan, keterampilan, dan perlengkapan yang memadai agar mampu bertindak cepat dan tepat ketika bencana terjadi.

Sementara itu, Camat Adipala, Firdaus Azy Mutia, mengapresiasi kontribusi PLN EPI yang telah menghadirkan program pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir Adipala. Ia berharap pembentukan Srikandi Tangguh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi berkembang menjadi kelompok relawan perempuan yang aktif mendukung kesiapsiagaan desa serta memperkuat sinergi bersama pemerintah, BPBD, PMI, dan seluruh stakeholder kebencanaan.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap melalui sambutan yang dibacakan oleh Edi Purwanto , Kepala UPT BPBD Kroya, menegaskan bahwa Kabupaten Cilacap merupakan salah satu wilayah dengan ancaman gempa bumi dan tsunami yang tinggi sehingga penguatan kapasitas masyarakat berbasis komunitas menjadi kebutuhan yang sangat penting. Menurut data BNPB, perempuan termasuk kelompok yang memiliki tingkat kerentanan tinggi ketika terjadi bencana sehingga penguatan kapasitas perempuan menjadi salah satu strategi utama dalam pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Membangun Perempuan Sebagai Garda Terdepan Kesiapsiagaan Selama tiga hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembekalan komprehensif mengenai berbagai aspek penanggulangan bencana, mulai dari identifikasi ancaman bencana, mitigasi dan kesiapsiagaan, peran perempuan dalam kebencanaan, manajemen logistik dan dapur umum, simulasi tanggap darurat, pertolongan pertama (First Aid), dukungan psikososial (trauma healing), hingga penyusunan rencana aksi kelompok.

Materi disampaikan oleh narasumber dari berbagai institusi, antara lain BPBD Kabupaten Cilacap, Tim Siaga Bencana Universitas Jenderal Soedirman, TAGANA Kabupaten Cilacap, serta PMI Kabupaten Cilacap. Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti latihan fisik, simulasi evakuasi gempa dan tsunami, praktik pertolongan pertama, hingga penyusunan rencana kerja Kelompok Perempuan Tanggap Bencana "Srikandi Tangguh" Desa Bunton.

Program dirancang menggunakan pendekatan partisipatif sehingga peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif berdiskusi, berbagi pengalaman menghadapi bencana, menyusun strategi kesiapsiagaan keluarga, serta merancang rencana aksi yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan di tingkat desa.

Penyerahan Perlengkapan Operasional Kebencanaan Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, PLN EPI juga menyerahkan berbagai perlengkapan operasional kepada Kelompok Srikandi Tangguh Desa Bunton, di antaranya perahu karet, emergency kit, rompi keselamatan, helm, sepatu safety, alat komunikasi (HT), tas P3K, pelampung, senter, TOA, serta berbagai perlengkapan pendukung lainnya yang akan digunakan dalam kegiatan kesiapsiagaan dan penanganan bencana di tingkat desa.

Selain itu, dibangun pula Posko Penanggulangan Bencana Srikandi Tangguh sebagai pusat koordinasi kelompok serta sarana edukasi kebencanaan bagi masyarakat Desa Bunton.

Komitmen Membangun Desa Tangguh Bencana Melalui program ini diharapkan lahir perempuan-perempuan tangguh yang tidak hanya mampu melindungi diri dan keluarganya ketika bencana terjadi, tetapi juga menjadi penggerak edukasi kebencanaan di lingkungan masyarakat, mendukung proses evakuasi, membantu pengelolaan logistik dan dapur umum, memberikan pertolongan pertama, hingga mendampingi proses pemulihan psikososial penyintas.

PLN Energi Primer Indonesia meyakini bahwa pengurangan risiko bencana tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi multipihak yang melibatkan dunia usaha, akademisi, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat. Pembentukan Kelompok Perempuan Tanggap Bencana "Srikandi Tangguh" Desa Bunton menjadi wujud nyata sinergi tersebut dalam membangun masyarakat pesisir yang lebih siap, tangguh, dan berdaya menghadapi berbagai ancaman bencana.

"Bersama Warga, Kita Lebih Kuat. Bersama Perempuan Tangguh, Kita Lebih Siap Menghadapi Bencana."